Cinta dan Kesetiaan

>> Senin, 31 Mei 2010

Pada dirinya yang mulia sumber teladan bagi setiap manusia yang berusaha menggapai ridha-Nya. Terpesona pada kehidupannya yang tak akan pernah habis dan puas di reguk oleh hamba-hambaNya yang merindukan surga-Nya.Sampai masalah kehidupan pribadinya pun begitu indah mempesona. Ia memberi teladan bagi para suami tentang arti cinta dan kesetiaan pada pasangannya yang sesungguhnya. Cinta itu tak kan pernah lekang oleh ruang dan waktu yang di lewati manusia. Walau sang belahan jiwa tercinta telah keharibaan-Nya. Tapi cinta itu tetap membara di dalam dadanya yang suci dan mulia. Bila ia teringat pada sang kekasihnya tercinta yang telah tiada, bibirnya yang mulia tak kan jemu senantiasa menyebut namanya ,memujinya dan memintakan ampunan untuknya. Adakah para suami istri berhasrat untuk meneladani cinta dan kesetiaannya?

Duhai, para suami,…junjunganmu memberikan contoh yang sangat istimewa dan mulia. Tentang kisah cinta dan kesetiaannya yang telah disaksikan oleh istri-istrinya yang lain dan para sahabatnya yang mulia. Generasi seterusnya dan para ulamapun membukukannya dalam tulisan mereka. Sehingga kisah ini bukanlah dongengan ataupun khayalan semata. Akan tetapi ia nyata adanya dan bagi orang yang ingin menirunya tentu pahala menantinya. Tidakkah hatimu tergerak untuk mewujudkannya?

Rasulmu tercinta yang amat sangat mencintai umatnya adalah sangat menghargai jasa istrinya. Bukti penghargaan beliau ini diwujudkan dengan tidak menikahnya beliau dengan wanita lain ketika Khadijah radiyallahu anha masih hidup mendampinginya. Diriwayatkan oleh Imam Muslim dari jalan Az-Zuhri dari Urwah radiyallahu anhu bahwa Aisyah radiyallahu anha berkata:

“Nabi Shalallahu alaihi wassalam tidak menikahi wanita lain sampai khadijah wafat”1

Hal ini tidak diperselisihkan di kalangan ahli ilmu dan sejarawan yang menunjukkan betapa agungnya kedudukan khadijah radiyallahu anha dalam hati beliau, tidakkah engkau memikirkannya?

Wahai para istri,…mengapa sangat agung kedudukan Khadijah radiyallahu anha dalam hati beliau shalallahu alaihi wassalam?Karena ia telah memberikan pengorbanan dan jasa yang sangat besar dalam kehidupan suaminya tercinta.Ia tak kenal lelah dan letih begitu setia mendampingi Rasulullah shalallahu alaihi wassalam dalam berdakwah mengenalkan islam pada masyarakat Quraisy waktu itu, sehingga sang suami mendapat berbagai cobaan, ujian dan kesulitan dalam hidupnya. Ia korbankan harta bendanya untuk sang suami tercinta di jalan dakwahnya, memberikan dukungan, ketenangan dan kasih sayang yang melimpah ruah dalam rumah tangganya.Mendidik anak-anak beliau sehingga menjadi penyejuk mata bagi keduanya.Inilah sosok istri teladan yang patut bagi setiap muslimah untuk mencontohnya dan mempersembahkannya untuk suami tercinta sehingga rumah tangga setiap muslim menjadi kokoh dan kuat bangunannya.Wajarlah bila Allah Azza wa jalla memberikan kabar gembira atas jasa-jasa beliau ini berupa istana di surga.Dari Abu Hurairah radiyallahu anhu bahwa suatu ketika malaikat Jibril mendatangi Rasulullah shalallahu alaihi wassalam dia berkata :

”Wahai Rasulullah, itu Khadijah telah datang membawa makanan atau minuman. Kalau sudah tiba, sampaikan salam kepadanya dari Allah dan dariku, dan berilah kabar gembira bahwa telah di sediakan untuknya sebuah istana di surga yang terbuat dari intan permata dan di istana tersebut tidak ada keributan maupun keletihan”2

Selain itu atas jasa besar Khadijah radiyallahu anha yang sangat tulus dalam memperjuangkan islam akhirnya beliaupun berhak menyandang gelar sebagai wanita yang terbaik pada umat ini. Dari Ali bin Abu Thalib Radiyallahu anhu bahwa Rasulullah Shalalahu alaihi wassalam bersabda:

“Wanita mereka yang terbaik adalah Maryam (yakni kepada umat yang didalamnya terdapat Maryam)dan wanita umat ini yang terbaik adalah Khadijah “3

Bukankah Allah sangat cepat hisabnya wahai saudariku,…Tidaklah Dia membalas kebaikan melainkan dengan kebaikan bahkan yang berlipat ganda, dan tidakkah kita ingin meraihnya?

Untuk para suami yang berusaha membahagiakan sang istri tercinta,…walau Khadijah radiyallahu anha telah tiada penghormatan beliau padanya tetap seperti di masa hidupnya . Beliau senantiasa memberikan hadiah pada kerabat dan kawan-kawan istrinya sebagai bukti nyata cinta beliau bukan hanya isapan jempol belaka.Sehingga perbuatan beliau ini membuat Aisyah radiyallahu anha sangat cemburu, Aisyah berkata :

“Aku tidak pernah cemburu kepada satupun diantara istri-istri Rasulullah shalallahu alaihi wassalam seperti cemburuku kepada Khadijah. Aku tidak melihatnya, akan tetapi Rasulullah sering menyebut namanya. Terkadang beliau menyembelih kambing, lalu memotong-motongnya, kemudian membagi-bagikannya kepada kawan-kawan Khadijah.Pernah aku berkata pada beliau, ‘Seolah-olah tidak ada perempuan lain di dunia ini selain Khadijah?” Beliau menjawab : “Dia dulu begini dan begitu. Dan darinya pula aku punya anak”4

Tentang perkataan Aisyah”…akan tetapi Rasulullah sering sekali menyebut namanya” Ibnu Hajar berkata bahwan dalam riwayat Abdullah al-Bahiyy dari Aisyah sebagaimana di sebutkan dalam Kitab Ath-Thabrani “beliau menyebut nama Khadijah, tidak bosan-bosan memujinya dan beristighfar untuknya”5

Tentang perkataan Rasulullah Shalalahu alaihi wassalam : “Dia dahulu begini dan begitu” Ibnu Hajar berkata bahwa maksudnya dia adalah wanita mulia, cerdas dan sejenisnya.6

Dalam kitab Al-Musnad Imam Ahmad menyebutkan riwayat Masruq dari Aisyah bahwa Rasulullah Shalallahu alaihi wassalam bersabda:

“Dia beriman kepadaku ketika orang-orang ingkar, membenarkanku ketika orang-orang mendustakanku, membantuku dengan hartanya ketika orang-orang tidak mau memberi bantuan, dan Allah Subhanahu wa ta’ala memberiku anak darinya ketika Dia tidak memberiku anak dari wanita lain”7.

Imam Nawawi berkata : “Hadits-hadits ini merupakan dalil kesetiaan, penjagaan cinta kasih, dan penghormatan kepada pasangan hidupnya baik semasa hidup maupun setelah mati, serta penghormatan kepada para kenalan teman hidup tersebut”.8.

Jasa istrinya selalu beliau kenang sepanjang masa, sepanjang perjalanan hidupnya. Beliau begitu setia, santun, memiliki pergaulan yang baik dengan istrinya, menjaga kehormatan hidup istrinya baik di saat hidup maupun setelah tiada serta memuliakan kerabat dan teman-temannya.Cintanya tak pernah lekang di makan usia bahkan beliau tetap setia mencintainya ,senantiasa menyebut namanya. Betapa indahnya!

Aisyah berkata bahwa Haalah binti Khuwailid saudara perempuan Khadijah meminta izin bertemu Rasulullah Shalallahu alihi wassalam. Saat itu beliau teringat akan cara minta izinnya Khadijah yaitu cara minta ijin Haalah yang mirip dengan Khadijah. Beliaupun terkenang dan terkejut dengan berkata “ Ya, Allah itu Haalah!” Aisyah yang melihat sikap beliau ini menjadi sangat cemburu. Aku berkata pada beliau :”Untuk apa engkau mengingat-ingat perempuan tua yang sudah tanggal giginya (ompong) dan sudah lama mati, padahal Allah telah memberimu ganti yang lebih baik darinya”9

Tidakkah engkau melihat kecemburuan Aisyah? Cemburu pada wanita yang telah tiada? Rasulullah tidak pernah melupakannya, melupakan gerak-gerik istrinya di masa hidupnya semua terekam indah dalam ingatan beliau. Hingga Aisyahpun tak kuasa menahan kecemburuannya.Adakah yang mau merenungkannya?

Pada Rasulullah suri tauladan yang menawan, semoga dengan membaca kisah cinta dan kesetiaannya hatimu akan tertawan. Alangkah indah dan manisnya hidup dalam cinta dan kesetiaan.Sehingga tenanglah hati para istri mengarungi biduk rumah tangga yang penuh onak dan duri-duri kehidupan. Islamlah solusi kehidupan bagi para pasangan. Di dalamnya akan kita dapati jalan keluar yang kita butuhkan. Wahai para suami,…apalagi yang engkau pikirkan? Jika manusia yang paling mulia di atas bumi ini telah mengajarkanmu arti cinta dan kesetiaan. Tidakkah ingin engkau persembahkan kepada pasangan hidupmu yang telah Allah halalkan? Dan tentu para istripun akan menambah pengabdian dan ketaatan mereka padamu karena inilah yang mereka harapkan! Wallahu ‘alam bish-shawwab.
READ MORE - Cinta dan Kesetiaan Read more...

Kisah Seorang Wanita yang Bertaubat

Dosa besar yang telah ia perbuat, mengantarkannya pada sebuah pertaubatan yang agung. Ia dirajam di kota Madinah. Taubatnya setara dengan taubat 70 warga Madinah. Bahkan, Rasul pun mensholatkannya. Jangan ragu untuk bertaubat.

Imran bin al-Husain al-Khunza radhiallahu ‘anhu menceritakan bahwa ada seorang wanita dari Juhainah yang datang kepada Rasulullah Shollallahu alayhi wa Sallam falam keadaan hamil karena berzina. Ia berkata, “Wahai Rasulullah! Aku telah melanggar batas. Maka tegakkanlah hukum terhadapku.” Kemudian Nabi memanggil salah seorang walinya agar memperlakukannya dengan baik. Beliau berkata, “Perlakukan dia dengan baik. Jika ia telah melahirkan maka bawalah dia kepadaku.” Maka ia melakukannya. Nabi pun memerintahkan untuk menghadirkan wanita tersebut. Lalu bajunya diikatkan pada tubuhnya. Lalu beliau memerintahkan agar wanita itu dirajam. Lalu Rasulullah menshalatkannya. Umar radhiallahu ‘anhu berkata kepadanya, “Apakah engkau menshalatkan dia wahai Rasulullah? Sedangkan ia telah berbuat zina?” Rasulullah bersabda, “Ia telah melakukan taubat dengan taubat yang apabila dibagikan kepada 70 penduduk Madinah, niscaya merea semua akan mendapatkan bagian. Apakah engkau mendapatkan keadaan yang lebih baik daripada ia yang telah menyerahkan dirinya kepada Allah?” (HR. Muslim)

Makna di Balik Kata

Dalam riwayat yang dinukilkan oleh Syaikh Utsaimin rahimahullah dari Imran bin Husain radhiallahu ‘anhu, ada seorang wanita yang datang kepada Nabi Shollallahu ‘alayhi wa sallam dalam keadaan hamil karena telah berzina.

Ia pun berkata, “Wahai Rasulullah! Aku telah melanggar had(batas), maka tegakkanlah had (hukuman) terhadapku.” Yakni, aku telah melakukan sesuatu yang mengharuskanku untuk dikenai had (hukuman) maka tegakkanlah had itu terhadapku.

Lalu Nabi memanggil seorang walinya dan memerintahkannya untuk memperlakukannya dengan baik. Apabila ia telah melahirkan, maka hendaklah ia membawanya kepada Rasulullah.

Ketika ia telah melahirkan, walinya membawanya kepada Rasulullah. “Dan Nabi memerintahkannya untuk menghadirkan wanita tersebut,” yaitu bajunya diselimutkan dan diikat agar tidak tersikap auratnya. “Kemudian beliau memerintahkan agar wanita tersebut dirajam, maka ia pun dirajam.” yaitu dilempari dengan batu. Ukuran batu itu tidak besar dan tidak kecil, hingga ia meninggal. Lalu Nabi menshalatkannya.

Beliau mendoakannya dengan doa bagi orang yang telah meninggal. “Lalu Umar berkata kepadanya, ‘Apakah engkau menshalatkannya sedangkan dia telah berbuat zina, wahai Rasulullah?” Sedangkan zina adalah termasuk dosa yang paling besar. Maka Rasulullah berkata, “Ia telah berta ubat dengan taubat yang apabila dibagikan kepada 70 penduduk Madinah, niscaya merea semua akan mendapatkan bagian.”Yakni, taubat yang luas, seandainya dibagikan kepada 70 orang dimana semua mereka berbuat dosa, niscaya mereka akan mendapatkan taubat itu dan bermanfaat untuk mereka.

“Apakah engkau mendapatkan keadaan yang lebih baik daripada ia yang telah menyerahkan dirinya kepada Allah Subhaanahu wa Ta’ala?”Yaitu, apakah engkau mendapatkan sesuatu yang lebih baik dari keadaan ini. Yaitu seorang wanita yang datang dan telah membersihkan dirinya, yaitu menyerahkan dirinya untuk mendekatkan dirinya kepada Allah Subhaanahu wa Ta’ala dan terlepas dari dosa zina. Tidak ada yang lebih baik dari hal ini.

Pelajaran dari Kisah Ini

Pertama, seorang pezina jika ia seorang muhshan (telah menikah) maka ia wajib untuk dirajam. Ini disebutkan dalam kitab Allah Subhaanahu wa Ta’ala dan merupakan ayat yang dibaca oleh kaum Muslimin dan mereka hapalkan, mereka pahami dan terapkan. Nabi dan para Khulafaur Rasyidin setelahnya telah melakukan rajam. Tapi Allah dengan kebijaksanaan-Nya telah menghapusnya dari Al-Qur’an secara lafadz dan membiarkan hukumnya berlaku di antara umat ini. Apabila seorang yang muhshan, yaitu yang telah menikah melakukan perzinaan, maka ia akan diraham hingga meninggal. Ia diberdirikan di tempat yang luas. Lalu orang-orang berkumpul dan mengambil batu yang mereka gunakan untuk melemparnya hingga meninggal.

Ini merupakan hikmah Allah Subhaanahu wa Ta’ala. Yaitu, syariat tidaklah memerintahkan untuk memenggal kepalanya dengan pedang sehingga perkaranya selesai. Tapi ia dirajam agar ia tersiksa dan merasakan pedihnya siksaan sebagai balasan apa yang telah ia dapatkan, berupa lezatnya sesuatu yang haram karena orang yang berbuar zina ini seluruh badannya merasakan nikmatnya sesuatu yang haram.

Karenanya, para Ulama rahimahullah berpendapat untuk tidak menggunakan batu besar. Sebab, ia akan membunuhnya dengan cepat dan ia pun terbebas. Tidak pula dengan batu kecil sekali karena hal itu akan menyakitinya dan lama matinya. Tapi dengan batu yang sedang sehingga ia dapat merasakan sakit kemudian mati.

Apabila ada seseorang yang mengatakan, bukankah Rasulullah telah mengatakan:

“Apabila kalian membunuh maka membunuhlah dengan baik dan apabila kalian menyembelih maka sembelilah dengan baik.” (HR.Muslim)

Membunuh dengan pedang lebih enak bagi orang yang dirajam, daripada ia harus dirajam dengan batu.

Kita katakan, benar Rasulullah telah berkata demikian. Tapi pembunuhan yang baik adalah terjadi apabila karena sesuai dengan syariat. Karena itu, apabila seorang laki-laki yang telah bertindak jahat kepada seseorang, lalu ia membunuhnya dengan sengaja dan memutilasi (membunuh dengan memotong-motong anggota tubuh), maka kita akan memutilasi pelaku kejahatan ini sebelum kita membunuhnya.

Misalnya, jika seorang pelaku kejahatan membunuh seorang. Lalu ia memotong kedua tangannya. Kemudian kedua kakinya, lisannya lalu kepalanya, maka kita tidak membunuh pelaku kejahatan tersebut dengan pedang. Tapi kita potong kedua tangannya, lalu kedua kakinya, lisannya, kita potong kepalanya sebagaiana ia berbuat. Ini termasuk bersikap baik dalam membunuh. Karena sikap baik dalam membunuh adalah dengan sesuatu yang sesuai dengan syariat bagaimanapun keadaannya.

Dalam hadits ini, terdapat dalil yang menunjukkan bolehnya seseorang untuk mengakui dirinya berbuat zina, dengan tujuan untuk mensucikan dirinya dengan penegakan had, bukan untuk membuka kejelekan dirinya. Orang yang membicarakan dirinya bahwa ia telah melakukan perzinaan dihadapan Imam atau wakilnya dengan tujuan agar ditegakkan hukuman atas dirinya maka orang ini tidaklah dicela dan dihina.

Adapun orang yang menceritakan kepada masyarakat bahwa dia telah berbuat zina, berarti ia telah membongkar aib dirinya sendiri. Ia tak akan dimaafkan. Rasulullah shollallahu ‘alayhi wa sallam pernah bersabda :

“Setiap umatku akan diampuni kecuali orang yang mujahir (terang-terangan). Mereka (para sahabat) berkata, “Siapakah orang yang mujahir itu?” Beliau berkata, “Ia adalah orang yang berbuat dosa kemudian Allah tutupi aibnya. Lalu pada pagi harinya ia menceritakannya.” (HR. Muttafaq alaih)

Ada jenis yang ketiga, yaitu orang fasik yang melampaui batas dan tidak punya rasa malu. Ia bercerita tentang ziba dengan bangga, na’udzu billah!Ia berkata bahwa dia pergi ke berbagai negeri untuk berbuat dosa, berzina dengan banyak wanita, dan berbagai kemaksiatan lainnya, dengan rasa bangga.

Orang ini harus diminta bertaubat. Jika ia bertaubat, maka ia akan mendapatkan ampunan. Jika tidak, maka ia dibunuh. Sebab orang yang bangga dengan perbuatan zina, maka sudah pasti ia menghalalkan zina, na’udzu billah! Barangsiapa yang menghalalkan perbuatan zina maka dia adalah orang kafir.

Sebagian orang fasik melakukan hal itu. Yaitu, orang-orang yang karena perbuatannya, kaum muslimin mendapatkan musibah. Banyak orang merasa bangga dnegan hal ini. Jika ia pergi ke suatu negeri yang terkenal dengan kefasikan dan tidak ada rasa malu seperti Bangkok dan negeri-negeri yang penuh kekejian perzinaan, homoseksual, khamar dan lain sebagainya, lalu ia pulang menjumpai temannya dan bangga menceritakan apa yang telah dilakukan.

Orang ini, sebagaimana telah dikatakan harus dimintai untuk bertaubat. Apabila ia bertaubat, maka ia diampuni. Jika tidak mau, maka ia dibunuh. Karena orang yang menghalalkan perzinaan dan lainnya diantara perbuatan yang diharamkan secara jelas dan disepakati keharamannya, maka ia adalah orang kafir.

Rincian Taubat Nasuha

Bisa jadi seseorang telah bertaubat dengan taubat yang nasuha (taubat dengan benar), ia menyesal dan berjanji kepada dirinya untuk tidak mengulanginya. Orang ini sebaiknya tidak pergi dan menceritakan tentang dirina. Tapi hendaklah ia merahasiakan perkara itu dan hanya Allah yang tahu. Barangsiapa yang bertaubat maka Allah akan menerima taubat.

Adapun orang khawatir bahwa taubatnya bukanlah taubat yang nasuha dan khawatir jika ia akan kembali pada perbuatan dosa, sekali lagi maka orang ini sebaiknya pergi kepada pemerintah, hakim, dan lainnya, lalu mengaku dihadapannya agar ditegakkan hukuman terhadapnya.
READ MORE - Kisah Seorang Wanita yang Bertaubat Read more...

Ilmu dan Akhlak Pemilik Nasehat dari Samahatusy Syaikh Ibnu Baz rahimahullahu

Ilmu ibarat sebuah permata yg sangat bernilai dan tdk terkira harganya. Dengan ilmu Adam ‘alaihissalam dimuliakan di atas seluruh makhluk hingga para malaikat diperintah utk sujud kepadanya.
Yang menjadi pertanyaan di sini ilmu apakah yg paling mulia yg seharus dicari oleh seorang pencari ilmu? Jawaban adl ilmu syar’i . Ilmu inilah yg disebutkan kemuliaan oleh Kitabullah dan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ilmu syar’i ini membahas tentang Allah Subhanahu wa Ta’ala nama-nama-Nya sifat-sifat-Nya ilmu tentang hak-Nya atas hamba-hamba-Nya dan tentang syariat-Nya terhadap para hamba. Sebagaimana ilmu ini berbicara tentang jalan yg bisa menyampaikan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala tentang tujuan dan akhir yg akan dicapai seorang hamba nanti di negeri akhirat.
Dengan demikian ilmu syar’i inilah yg sepatut dicari dgn penuh semangat. Karena dengan seorang hamba bisa mengenal Allah Subhanahu wa Ta’ala dan dengan seorang hamba bisa beribadah. Si hamba dapat mengetahui apa yg Allah Subhanahu wa Ta’ala halalkan apa yg diharamkan apa yg diridhai dan apa yg dimurkai-Nya. Dengan ilmu ini diketahui ke mana kehidupan ini akan berakhir; ada sebagian hamba yg akhir bersenang-senang di dlm surga dan sebagian besar lain sengsara dlm neraka.
Ilmu syar’i ini bertingkat-tingkat. Yang paling utama dan paling mulia adl ilmu akidah yg pembahasan berkaitan dgn Allah Subhanahu wa Ta’ala nama-nama-Nya sifat-sifat-Nya. Menyusul setelah ilmu yg berkaitan dgn hak-Nya terhadap hamba-hamba-Nya tentang hukum-hukum syariat-Nya dan ke mana akhir yg dituju oleh orang2 yg beramal. Urutan selanjut adl ilmu yg membantu dan mengantarkan pada ilmu syar’i seperti ilmu tentang kaidah-kaidah bahasa Arab istilah-istilah Islamiyah dlm ushul fiqih dan mushthalahul hadits. Demikian pula perkara-perkara lain yg berkaitan dgn ilmu syar’i yg membantu dan mendukung utk memahami secara sempurna. Termasuk ilmu yg penting dipelajari adl sirah nabawiyyah sejarah Islam biografi para perawi hadits dan para ulama Islam.
Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memuliakan pemilik ilmu syar’i ini dan membesarkan keberadaan mereka. Dia Yang Maha Suci berfirman:
شَهِدَ اللهُ أَنَّهُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ هُوَ وَالْمَلاَئِكَةُ وَأُولُو الْعِلْمِ قَائِمًا بِالْقِسْطِ لاَ إِلَهَ إِلاَّ هُوَ الْعَزِيْزُ الْحَكِيْمُ
“Allah telah mempersaksikan bahwa tdk ada sesembahan yg patut disembah kecuali hanya Dia bersaksi pula para malaikat dan orang2 yg berilmu dlm keadaan Allah menegakkan keadilan. Tidak ada sesembahan yg patut diibadahi melainkan Dia Yang Maha Perkasa lagi Memiliki hikmah.”
Allah Subhanahu wa Ta’ala mengambil persaksian orang2 yg berilmu syar’i beserta para malaikat-Nya tentang keesaan-Nya. Mereka mempersaksikan bahwa Dia adl Rabb semesta alam. Dialah sesembahan yg haq sementara peribadatan kepada selain-Nya adl batil. Cukuplah ketetapan yg seperti ini sebagai pemuliaan terhadap orang2 yg berilmu.
orang2 yg berilmu dibedakan dari selain mereka sebagaimana dinyatakan Allah Subhanahu wa Ta’ala:
قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِيْنَ يَعْلَمُوْنَ وَالَّذِيْنَ لاَ يَعْلَمُوْنَ إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُولُو اْلأَلْبَابِ
“Katakanlah ‘Apakah sama orang2 yg mengetahui dgn orang2 yg tdk mengetahui?’ Sesungguh hanya orang2 yg berakallah yg dapat menerima pelajaran.”
أَفَمَنْ يَعْلَمُ أَنَّمَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ مِنْ رَبِّكَ الْحَقُّ كَمَنْ هُوَ أَعْمَى إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُولُو اْلأَلْبَابِ
“Adakah orang yg mengetahui bahwasa apa yg diturunkan kepadamu dari Rabbmu itu benar sama dgn orang yg buta? Hanyalah orang2 berakal saja yg dapat mengambil pelajaran.”
Jelas tidaklah sama antara yg satu dgn yg lain. Orang yg mengetahui bahwa petunjuk yg Allah Subhanahu wa Ta’ala turunkan itu benar ada sebagai suatu jalan keselamatan tidaklah sama dgn orang2 yg buta dari jalan tersebut dan buta tentang ilmu syar’i.
Allah Subhanahu wa Ta’ala juga menerangkan bahwa Dia mengangkat derajat orang2 yg berilmu. Hal itu tidaklah mereka capai melainkan krn besar kebaikan dan kemanfaatan yg mereka berikan kepada manusia. Oleh krn itulah ada seorang alim yg berkata “Alangkah bagus apa yg mereka berikan kepada manusia namun sebalik alangkah jelek perbuatan manusia kepada mereka.”
Mereka memberikan bimbingan kepada manusia menuju kebaikan menunjukkan mereka kepada kebenaran dan menyampaikan mereka kepada petunjuk. Tokoh pemilik ilmu yg terdepan adl para rasul. Mereka adl pemberi petunjuk dan penyampai dakwah. Mereka merupakan orang yg paling tahu tentang Allah Subhanahu wa Ta’ala dan syariat-Nya.
Kemudian orang yg paling utama setelah para rasul adl yg paling mengikuti jejak rasul dan paling tahu apa yg mereka bawa paling sempurna ajakan kepada manusia utk menuju agama Allah Subhanahu wa Ta’ala bersabar dlm berdakwah dan memberi bimbingan. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
يَرْفَعِ اللهُ الَّذِيْنَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِيْنَ أُوْتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ
“Allah mengangkat orang2 yg beriman di antara kalian dan orang2 yg memiliki ilmu dgn beberapa derajat.”
Allah Subhanahu wa Ta’ala menerangkan bahwa orang2 berilmulah yg benar-benar takut/khasyah kepada-Nya dgn khasyah yg sempurna sebagaimana dlm firman-Nya:
إِنَّمَا يَخْشَى اللهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ إِنَّ اللهَ عَزِيْزٌ غَفُوْرٌ
“Hanyalah yg takut kepada Allah dari kalangan hamba-hamba-Nya adl para ulama.”
Ulama adl orang2 yg kenal dgn Allah Subhanahu wa Ta’ala mengenal nama dan sifat-sifat-Nya serta mengetahui syariat-Nya yg disampaikan oleh para rasul-Nya. Karena itulah Nabi kita Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada beberapa orang yg menganggap kecil ilmu yg beliau bimbingkan dgn mengatakan “Kami tdk sama sepertimu wahai Rasulullah! Allah telah mengampuni dosamu yg telah lalu dan yg belakangan.” Beliau menjawab “Ketahuilah demi Allah! Sungguh aku lbh takut kepada Allah daripada kalian dan lbh bertakwa kepadanya.”
Banyak sekali hadits yg datang dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yg memuat tentang keutamaan ilmu di antara hadits:
مَنْ سَلَكَ طَرِيْقًا يَلْتَمِسُ فِيْهِ عِلْمًا، سَهَّلَ اللهُ لَهُ بِهِ طَرِيْقًا إِلَى الْجَنَّةِ
“Siapa yg menempuh suatu jalan utk mencari ilmu Allah akan mudahkan bagi dgn ilmu tersebut jalan menuju surga.”
Hadits di atas menunjukkan kepada kita bahwa para penuntut ilmu agama berada di atas kebaikan yg besar. Mereka di atas jalan keberuntungan dan kebahagiaan tentu bila benar/lurus niat dlm menuntut ilmu krn mengharapkan wajah Allah Subhanahu wa Ta’ala dan ingin mengamalkan bukan krn riya` dan sum’ah atau tujuan-tujuan dunia lainnya.
Ia mempelajari ilmu hanya krn ingin mengetahui agama mengetahui perkara yg Allah Subhanahu wa Ta’ala wajibkan kepadanya. Dan bermaksud mengeluarkan manusia dari kegelapan menuju cahaya hingga ia belajar dan mengamalkan ilmu serta mengajarkan kepada orang lain.
Setiap jalan yg ia tempuh dlm menuntut ilmu adl jalan menuju surga baik jalan tersebut secara hakiki ataupun maknawi. Perjalanan jauh yg ditempuh dari satu negeri menuju ke negeri lain berpindah dari satu halaqah ke halaqah yg lain dari satu masjid ke masjid lain dgn tujuan mencari ilmu ini semua teranggap jalan yg ditempuh guna beroleh ilmu. Demikian pula diskusi tentang kitab-kitab ilmu meneliti dan menulis semua pun teranggap jalan guna beroleh ilmu.
Dengan demikian sepantas bagi penuntut ilmu utk memerhatikan seluruh jalan yg bisa mengantarkan kepada ilmu dan bersemangat menempuh krn mengharapkan wajah Allah Subhanahu wa Ta’ala dan negeri akhirat. Ia sepantas berkeinginan mendalami agama ingin tahu perkara yg diwajibkan pada dan yg diharamkan ingin mengenal Rabb di atas bashirah dan bayyinah kemudian mengamalkannya. Ia pun ingin menyelamatkan manusia hingga ia berdiri sebagai orang yg mengajak kepada petunjuk dan menolong kebenaran membimbing manusia kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala di atas ilmu dan petunjuk.
Orang yg seperti ini keadaan mk tidur pun ternilai jalan menuju surga bila ia tidur dgn tujuan agar mendapat kekuatan dlm menuntut ilmu agar dapat menunaikan pelajaran dgn baik atau agar mendapat kekuatan utk menghafal kitab ilmu atau utk safar dlm menuntut ilmu. Tidur orang yg seperti ini ternilai ibadah demikian pula kegiatan yg lain bila disertai niat yg benar. Beda hal dgn orang yg jelek niat ia berada dlm bahaya yg besar. dlm sebuah hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
مَنْ تَعَلَّمَ عِلْمًا مِمَّا يُبْتَغَى بِهِ وَجْهُ اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى، لاَ يَتَعَلَّمُهُ إِلاَّ لِيُصِيْبَ بِهِ عَرَضًا مِنَ الدُّنْيَا، لَمْ يَجِدْ عَرْفَ الْجَنَّةِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
“Siapa yg mempelajari ilmu yg seharus dipelajari dlm rangka mengharapkan wajah Allah namun ternyata mempelajari krn ingin beroleh materi dari dunia ini ia tdk akan mencium wangi surga pada hari kiamat.”
Ini merupakan ancaman yg besar bagi orang yg jelek niatan dlm menuntut ilmu. Diriwayatkan dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam beliau bersabda:
مَنْ طَلَبَ الْعِلْمَ لِيُجَارِيَ بِهِ الْعُلَمَاءَ أَوْ لِيُمَارِيَ بِهِ السُّفَهَاءَ أَوْ يَصْرِفَ بِهِ وُجُوْهَ النَّاسِ إِلَيْهِ أَدْخَلَهُ اللهُ النَّارَ
“Siapa yg menuntut ilmu dgn tujuan utk mendebat ulama atau utk debat kusir dgn orang2 bodoh atau utk memalingkan wajah-wajah manusia kepada mk Allah akan memasukkan ke dlm neraka2.”
Telah datang pula dlm hadits yg shahih sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yg menyatakan bahwa ada tiga golongan manusia kelak pada hari kiamat api neraka utk pertama kali dinyalakan guna membakar mereka. Di antara tiga golongan tersebut adl orang yg mencari ilmu dan membaca Al-Qur`an krn niat selain Allah Subhanahu wa Ta’ala ia belajar ilmu agar dikatakan alim dan membaca Al-Qur`an agar dikatakan qari`.3
Oleh krn itu wahai hamba Allah Subhanahu wa Ta’ala wahai penuntut ilmu hendak engkau ikhlas dlm beribadah dan meniatkan hanya utk Allah Subhanahu wa Ta’ala. Hendak pula engkau bersungguh-sungguh dan penuh semangat dlm menempuh jalan-jalan ilmu dan bersabar di atas kemudian mengamalkan apa yg terkandung dlm ilmu tersebut. Karena tujuan dari belajar ilmu adl utk diamalkan bukan krn ingin dikatakan alim atau pun mendapatkan ijazah. Namun tujuan adl agar engkau dapat mengamalkan ilmumu dan membimbing manusia menuju kebaikan dan agar engkau menjadi pengganti para rasul dlm dakwah kepada kebenaran.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda dlm hadits yg shahih:
مَنْ يُرِدِ اللهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّيْنِ
“Siapa yg Allah kehendaki kebaikan bagi Allah akan faqihkan dia dlm agamanya.”
Hadits di atas menunjukkan keutamaan ilmu. Bila Allah Subhanahu wa Ta’ala menginginkan seorang hamba beroleh kebaikan Allah Subhanahu wa Ta’ala akan memahamkan dlm agama-Nya hingga ia dapat mengetahui mana yg benar mana yg batil mana petunjuk mana kesesatan. Dengan pula ia dapat mengenal Rabb dgn nama dan sifat-sifat-Nya serta tahu akan keagungan hak-Nya. Ia pun tahu akhir yg akan diperoleh para wali Allah Subhanahu wa Ta’ala dan para musuh Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Dari keterangan yg ada tahulah kita betapa besar dan mulia ilmu.
Ilmu merupakan sesuatu yg paling afdhal dan paling mulia bagi orang yg Allah Subhanahu wa Ta’ala perbaiki niatnya. Karena ilmu akan mengantarkan seseorang utk mengetahui kewajiban yg paling utama dan paling besar yaitu mentauhidkan Allah Subhanahu wa Ta’ala dan mengikhlaskan ibadah untuk-Nya. Ilmu juga menyampaikan seseorang utk mengetahui hukum-hukum Allah Subhanahu wa Ta’ala dan apa yg diwajibkan-Nya kepada hamba-hamba-Nya. Dengan demikian ilmu adl kewajiban besar yg akan menyampaikan kepada penunaian kewajiban-kewajiban yg besar. Tidak ada kebahagiaan yg diperoleh para hamba dan tdk ada keselamatan bagi mereka kecuali dgn pertolongan Allah Subhanahu wa Ta’ala kemudian dgn ilmu agama berpegang dgn ilmu dan istiqamah di atasnya.
Ulama merupakan sebaik-baik manusia dan paling utama di muka bumi ini. Yang terdepan dari mereka tentu para rasul dan para nabi ‘alaihimussalam. Mereka adl qudwah . Mereka merupakan asas/fondasi dlm dakwah ilmu dan keutamaan. Setelah mereka adl ahlul ilmi sesuai dgn tingkatannya. Yang paling tahu tentang Allah Subhanahu wa Ta’ala nama dan sifat-sifat-Nya yg paling sempurna dlm amal dan dakwah mk dialah orang yg terdekat dgn para rasul paling dekat derajat dan kedudukan dgn para rasul di dlm surga kelak. Ahlul ilmi adl pemimpin di bumi ini cahaya dan pelita bagi bumi. Mereka membimbing manusia menuju jalan kebahagiaan memberi petunjuk kepada manusia menuju sebab-sebab keselamatan dan menggiring mereka kepada perkara yg diridhai Allah Subhanahu wa Ta’ala serta menjauhkan mereka dari sebab-sebab kemurkaan dan adzab-Nya.

1 Dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullahu dlm Shahih Abi Dawud -pent.
2 HR. At-Tirmidzi dihasankan Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullahu dlm Shahih At-Tirmidzi -pent.
3 Seperti ditunjukkan dlm hadits yg panjang diriwayatkan Al-Imam At-Tirmidzi rahimahullahu berikut ini: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
أَنَّ اللهَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى إِذَا كَانَ يَوْمُ الْقِيَامَةِ يَنْزِلُ إِلَى الْعِبَادِ لِيَقْضِيَ بَيْنَهُمْ، وَكُلُّ أُمَّةٍ جَاثِيَةٍ. فَأَوَّلُ مَنْ يَدْعُو بِهِ رَجُلٌ جَمَعَ الْقُرْآنَ وَرَجُلٌ قُتِلَ فِي سَبِيْلِ اللهِ وَرَجُلٌ كَثِيْرُ الْمَالِ. فَيَقُوْلُ اللهُ لِلْقَارِئِ: أَلَمْ أُعَلِّمْكَ مَا أَنْزَلْتُ عَلَى رَسُوْلِي؟ قَالَ: بَلى يَا رَبِّ. قَالَ: فَمَاذَا عَمِلْتَ فِيْمَا عُلِّمْتَ؟ قَالَ: أَقُوْمُ بِهِ آنَاءَ اللَّيْلِ وَآنَاءَ النَّهَارِ. فَيَقُوْلُ اللهُ لَهُ: كَذَبْتَ. وَتَقُوْلُ لَهُ الْمَلائِكَةُ: كَذَبْتَ. وَيَقُوْلُ اللهُ: بَلْ أَرَدْتَ أَنْ يُقَالَ: إِنَّ فُلاَنًا قَارِئٌ، فَقَدْ قِيْلَ ذَاكَ — الْحَدِيْثَ
“Sesungguh Allah Tabaraka wa Ta’ala pada hari kiamat nanti turun kepada hamba-hamba-Nya utk memutuskan perkara di antara mereka. mk yg pertama dipanggil adl seseorang yg hafal Al-Qur`an orang yg terbunuh di jalan Allah dan orang yg banyak hartanya. Allah berfirman kepada si pembaca Al-Qur`an “Bukankah telah Aku ajarkan kepadamu apa yg Aku turunkan kepada Rasul-Ku?” “Ya wahai Rabbku” jawab si qari. “Lalu apa yg engkau amalkan dari ilmu yg telah diajarkan kepadamu?” ta Allah. Ia menjawab “Aku menegakkan malam dan siang.” Allah bersabda kepada si qari “Engkau dusta.” Para malaikat pun berkata yg sama “Engkau dusta.” Allah berfirman “Bahkan engkau ingin dikatakan ‘Fulan seorang ahli membaca Al-Qur`an’ dan sungguh orang2 telah mengatakan seperti itu.
Dan seterus dari hadits tersebut sampai pada akhir Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
أُولَئِكَ الثَّلاَثَةُ أَوَّلُ خَلْقِ اللهِ تُسْعَرُ بِهِمُ النَّارُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
“Tiga golongan ini merupakan makhluk Allah pertama yg api neraka dinyalakan utk membakar mereka pada hari kiamat.” –pent.
READ MORE - Ilmu dan Akhlak Pemilik Nasehat dari Samahatusy Syaikh Ibnu Baz rahimahullahu Read more...

Pilihlah Wanita yang Memiliki Agama

Wanita itu dinikahi karena empat perkara yaitu karena hartanya, kedudukannya (keturunannya), kecantikannya dan agamanya. Maka pilihlah wanita yang memiliki agama, “. (Hadits Riwayat. Bukhari Muslim)
READ MORE - Pilihlah Wanita yang Memiliki Agama Read more...

About This Blog

Lorem Ipsum

  © Free Blogger Templates Skyblue by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP